
Bungo, 13 Juni 2026** – Dalam rangka memperluas wawasan akademik serta memperkaya pengalaman belajar di luar kelas, Tim Riset MTsN 8 Bungo melaksanakan kegiatan **studi kunjung ke Masjid Raya Sumatera Barat** di Kota Padang pada Sabtu (13/6/2026). Kegiatan ini menjadi sarana edukatif bagi para siswa untuk mengenal lebih dekat sejarah, filosofi arsitektur, serta nilai-nilai budaya dan keislaman yang terkandung dalam salah satu ikon kebanggaan masyarakat Sumatera Barat tersebut.
Sejak tiba di lokasi, para anggota tim riset tampak antusias mengamati keunikan bangunan masjid yang berbeda dari kebanyakan masjid di Indonesia. Masjid Raya Sumatera Barat memiliki desain tanpa kubah, namun mengusung bentuk atap yang menyerupai bentangan kain dengan empat sudut menjulang. Desain tersebut terinspirasi dari kisah peletakan **Hajar Aswad**, ketika para pemimpin suku di Makkah bersama-sama mengangkat batu suci menggunakan selembar kain sebagai simbol persatuan dan kebijaksanaan. Selain itu, bentuk atapnya juga mencerminkan filosofi arsitektur Rumah Gadang khas Minangkabau. ([BWI Prov. Sumatera Barat][1])
Dalam sesi pembelajaran, tim riset mempelajari bahwa sejarah pembangunan Masjid Raya Sumatera Barat dimulai dengan peletakan batu pertama pada **21 Desember 2007** oleh Gubernur Sumatera Barat saat itu, Gamawan Fauzi. Proses pembangunannya dilakukan secara bertahap dan memerlukan waktu yang panjang karena pendanaannya berasal dari APBD Provinsi Sumatera Barat. Seiring berjalannya waktu, masjid ini berkembang menjadi salah satu masjid terbesar di Sumatera dengan kapasitas sekitar **20.000 jamaah** serta dirancang untuk memiliki fungsi tambahan sebagai tempat evakuasi ketika terjadi bencana tsunami. ([BWI Prov. Sumatera Barat][1])

Para siswa juga memperoleh penjelasan mengenai rancangan arsitektur masjid yang merupakan karya **Rizal Muslimin**, pemenang sayembara desain yang diikuti ratusan arsitek dari berbagai negara pada tahun 2007. Konsep bangunan memadukan nilai-nilai Islam dengan kearifan lokal Minangkabau melalui ukiran tradisional, kaligrafi, serta struktur bangunan yang dirancang tahan terhadap gempa bumi, menyesuaikan kondisi geografis Sumatera Barat yang berada di wilayah rawan gempa. ([BWI Prov. Sumatera Barat][1])
Kegiatan studi kunjung ini tidak hanya menjadi ajang wisata edukasi, tetapi juga media pembelajaran karakter. Para anggota Tim Riset MTsN 8 Bungo diajak memahami bahwa sebuah bangunan bersejarah bukan sekadar karya fisik, melainkan simbol persatuan, semangat gotong royong, serta perpaduan antara ilmu pengetahuan, budaya, dan nilai-nilai spiritual.
Melalui observasi langsung di lapangan, siswa memperoleh pengalaman yang dapat mendukung kemampuan penelitian, berpikir kritis, serta menambah referensi dalam pengembangan karya ilmiah mereka. Dokumentasi, diskusi, dan pengamatan yang dilakukan selama kunjungan diharapkan menjadi inspirasi untuk menghasilkan penelitian yang berkualitas dan bermanfaat bagi masyarakat.
Kepala MTsN 8 Bungo menyampaikan apresiasi atas semangat belajar yang ditunjukkan oleh Tim Riset. Kegiatan seperti ini diharapkan mampu menumbuhkan rasa cinta terhadap sejarah, budaya bangsa, serta meningkatkan motivasi siswa untuk terus berprestasi di bidang akademik maupun penelitian.

**Dengan semangat “belajar dari sejarah untuk membangun masa depan”, Tim Riset MTsN 8 Bungo membuktikan bahwa pendidikan terbaik tidak hanya diperoleh di dalam kelas, tetapi juga melalui pengalaman langsung yang memperkaya wawasan, karakter, dan kecintaan terhadap warisan budaya serta peradaban Islam di Indonesia.**
[1]: https://www.sumbar.bwi.go.id/2022/06/22/7606/masjid-raya-sumatera-barat/?utm_source=chatgpt.com "Masjid Raya Sumatera Barat | Website Resmi Perwakilan BWI Prov. Sumatera Barat | www.sumbar.bwi.go.id"
|
236x
Dibaca |
. |
Untuk Wilayah Kab. Bungo dan Sekitarnya
Memuat tanggal...